Ditolak Keberadaannya Di Bali, Ini Klarifikasi Pengikut Hare Khrisna

Orang existed juga telah menggunakan istilah Sanatanis atau bahkan Dharmists, keduanya lebih dekat ke arti sesungguhnya dalam budaya Weda. Kemudian, ketika penyerbu Muslim tiba dari tempat-tempat seperti Afghanistan dan Persia, mereka menyebut Sungai Sindhu sebagai Sungai Hindu. Kata ini digunakan oleh Muslim asing untuk mengidentifikasi orang-orang dan agama di mana orang-orang tersebut tinggal di daerah itu. Setelah itu, bahkan orang Indian sesuai dengan standar tersebut sebagaimana ditetapkan oleh mereka yang berkuasa dan menggunakan nama-nama Hindu dan Hindustan. Sebaliknya, kata itu tidak memiliki makna kecuali orang-orang memberinya arti atau sekarang digunakan di luar kegunaan. Beberapa sumber melaporkan bahwa Alexander Agung yang pertama kali merubah nama Sungai Sindhu menjadi Indu, menghilangkan huruf “S”, guna memudahkan pengucapan bagi orang Yunani. Kekuatan Macedoniannya sesudah itu disebut daratan timur Indus sebagai India, sebuah nama yang digunakan terutama selama rezim Inggris.

Jadi mohon dengarkan dan baca semua tentang sri krishna dari vaisnava bonafid dan sastra2 yang terjamin. Ingatlah sekarng adalah zaman kali, raksasa sekalipun lahir menjadi brahmana untuk menyamarkan dan menghancurkan kebenaran. Pada 22 Juli 2020 kemarin, PHDI Bali sempat menggelar mediasi terkait dengan polemik Hare Krishna di Bali. Hasilnya, waktu itu ada wacana yang disampaikan oleh pihak Hare Krishna bahwa mereka tidak akan lagi mengadakan kegiatan di tempat umum atau diluar asram sehingga tidak mengundang polemik di masyarakat.

Berita Bali Tv.

Terkait polemik Hare Krisna di Bali, pihaknya mengaku sudah melakukan pembahasan inner dengan pengurus harian, tim hukum, walaka, sampai pada rapat gabungan PHDI seluruh Bali. ” Ini kami lakukan untuk mengaajegkan agama, adat dan tradisi Bali,” katanya. Jangan sampai meninggalkan adat, budaya dan tradisi yang diwariskan leluhur. Jadi, meskipun saya tidak merasa bahwa “Hindu” adalah istilah yang tepat untuk mewakili budaya Arya Veda atau jalan spiritual, saya juga menggunakan kata itu dari waktu ke waktu untuk arti yang sama karena sudah jadi bagian dari kosa kata semua orang. Kalau tidak, karena saya mengikuti jalan Veda Sanatana-dharma, saya menyebut diri saya Sanatana-dharmist. Yang mengurangi kebutuhan untuk menggunakan label “Hindu” dan juga membantu memusatkan perhatian pada sifat global jalan Veda. Oleh karena itu, saya mengusulkan bahwa semua orang yang menganggap dirinya sebagai orang Hindu mulai menggunakan istilah Sanatana-dharmist, yang tidak hanya mengacu pada terminologi Sansekerta yang benar, tapi juga lebih akurat menggambarkan karakter dan spiritual maksud sesungguhnya dari jalan Veda.

Ini dilakukan dengan niat yang agak sukses menciptakan gesekan di kalangan masyarakat India. Hal ini sesuai dengan kebijakan Inggris atas pembagian dan aturan untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka yang terus berkuasa atas negeri itu. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si mengatakan, berdasarkan hasil rapat Tim Komunikasi, Mediasi dan advokasi PHDI Bali dengan Ormas Keagamaan Hindu dan ISKCON pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2020 terkait polemik Hare Krisna di media sosial. Saya ingin meluruskan disini, bnyak orang yang tersesat dalam mengikuti ajaran krishna yg diplokamirkan oleh saibaba. Bnyak hal yang dikatakn saibaba menyimpang dari bhagawad gita dan vaisnava besar pun tidak mengakuinya sebagai awatara.

Kontroversi Hare Krishna .

” Yang jelas, soal Hare Krishna ini dua kali sempat heboh di masyarakat. Jadi sebelum tahun 1984 itu sudah terjadi juga penyimpangan-penyimpangan yang prinsip dilakukan oleh hare krishna sehingga dibuatlah kebijakan pelarangan di seluruh Indonesia,” ungkap Putra Sukahet. Sementara itu, Majelis Desa Adat Provinsi Bali sebelumnya menginstruksikan seluruh 1.493 desa adat di Bali untuk tidak mengizinkan alias melarang Hare Krishna dan Sampradaya lainnya melakukan kegiatan ritualnya di setiap pura, fasilitas pedruwen desa adat, dan atau fasilitas umum yang ada di wewidangan desa adat. Keputusan ini diambil MDA Provinsi Bali dalam pesangkepan yang diperluas bersama seluruh MDA Kabupaten/Kota Se-Bali, di Sekretariat Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Niti Mandala Denpasar, 5 Agustus 2020 lalu. Menurut Adi Wiryatama, ada beberapa pertimbangan DPRD Bali atas sikap tegas terhadap keberadaan Hare Krishna. Dari beberapa penelusuran fakta-fakta di lapangan, keberadaan Hare Krishna selama ini kerap menimbulkan persoalan dan kegaduhan.

  • Ini yang kami khawatirkan ada dampak negatifnya ketika ada kegiatan demo, itu memberi kesan yang kurang bagus terhadap new normal di Bali,” katanya.
  • ” Kami dari MDA mengimbau krama adat supaya tidak ada kegiatan aksi damai atau demonstration.
  • Kemudian disepakati untuk membuat aturan, khususnya di desa adat akan dibuat pararem terkait pengaturan sampradaya.
  • Menanggapi hal itu, International Culture for Krishna Conciousnes atau Masyarakat Kesadaran Krishna sebagai organisasi yang menaungi memberikan penjelasan.
  • Ketut Sudiana, mengatakan, sesuai usul dan saran yang disampaikan para bendesa maupun pengurus PHDI di Kota Denpasar, sepakat untuk menolak adanya aksi damai yang akan dilakukan terkait dengan Hare Krishna.
  • Yang kedua, baru saja Pak Gubernur membuka brand-new regular untuk pariwisata di tingkat nasional.

Banyak elemen masyarakat yang mengadukan keberadaan Hare Krishna, karena dinilai tidak sesuai dengan budaya, tradisi, adat istiadat Bali yang dijiwai Agama Hindu. Adi Wiryatama menegaskan, pada intinya DPRD Bali membatasi kegiatan Hare Krishna di Bali. Kalau memamg menganggu ketertiban umum dan kegiatan umat Hindu di desa adat, Hare Krishna bisa dibubarkan dan ditindak secara hukum. PHDI Bali sempat menggelar mediasi terkait dengan polemik Hare Krishna di Bali. Dijelaskan pada klarifikasi itu, pendiri ISKCON, Srila Prabhupada yang mengatakan bahwa ISKCON bukanlah Hindu, dilakukan lantaran untuk menghindari kesalahpahamaan ajaran yang ia berikan hanya khusus untuk orang dari satu agama atau dari india.